Rabu, 09 Mei 2018

Tangerang ke Banjarnegara Bis dan Kereta

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh, Sahabat.
Seringnya aku naik sinar jaya dari Cikupa ke Banjarnegara. Benar² langsung turun ke proyek mrica. Nah setelah itu tinggal naik bis kecil mikro Wanadadi.

Tapi beda kali ini. Aku naik kereta api. Kemarin malam setelah ngajar, dari islamik aku ke Stasiun Pasar Senen naik 157. Padahal jaraknya jauh banget lho, tapi cuma mbayar lima ribu ajah. Alhamdulillah.. Setelah sejaman atau kurang, aku turun mengikuti yang lain saat keneknya bilang, "Senen habis, Senen habis.." Terminal Pasar Senen itu didepannya sudah Stasiun ternyata. Deket banget, Sahabat..

Nah, ada yang menarik perhatianku lagi. Pas mau ke Stasiunnya, ada masjid gedhe banget, bersih, baru dibangun kayaknya. Aku sholat isya' di situ. Nyamannya... Tadinya mau nginep di situ, eh ternyata ditutup sekitar jam setengah sembilanan. Tapi alhamdulilah aku makan nasi bungkus yang tadi kubeli di Karawaci di situ.

Stasiun Pasar Senen itu kayak ndak mati malam itu. Terus saja berdatangan manusia² ke situ. Takira sih kebanyakan mau mudik mereka. Eh, jangan² ada Sahabat di sini yang juga di situ. Aku saja ketemu Kang Hasan Al Caruban i (sahabat SMA). Baru Senen terasa agak sepi pas lewat jam sebelas malam. Tapi rame lagi pas jam duaan. Ya gitu..

Subhanallah, ndak hanya aku ternyata yang bermalam di situ. Bener kata Pak Nerru, aku baru ingat pas sudah naik 157. Mbawa jas hujan kita. Buat apa coba? Buat alas. Kalau nginep kan kita membumi, rendah hati. Makanya perlu alas biar bersih. Aku tidur bangun tidur bangun. Mungkin istilah sahabatku itu kayak tidur ayam gitu ya?

Tapi alhamdulilah pas sebelum shubuh, di masjid yang depan tadi sudah dibuka lagi. Jadi bisa ke sana sebelum naik fajar Utama jam 6.15nya.

Perjalanan naik kereta jurusan akhir Jogja itu Alhamdulillah lancar, ndak ada hambatan yang berarti. Malah aku sempat nyicipi (sebenarnya ndak hanya itu sih.. makan besar) makanan box di gerbong restorasinya. Karena kalau tak tunggu sampai mas² dan mbak² nya nawari kayaknya lama deh.. betul. Makanannya enak, tempatnya nyaman juga. Ada dua meja makan dengan empat kursi empuk di gerbong itu. Mewahhh.. Alhamdulillaahh..

Adzan dzuhur terdengar merdu dan merasuk ke hati Sahabat² yang beriman pas aku sampai stasiun Purwokerto. Alhamdulillah ada Pak Nur Faizin, sahabat ojek yang mau mengantar ke terminal Purwokerto setelah kami sholat dzuhur. Pas tadi aku mbayar dua puluh lima ribu. Kalau ada yang mau nomernya ini: 085747443760.





Yah, dua menitan aku menunggu di pintu keluar terminal. Sekarang pas nulis ini aku masih di bis jurusan Banjarnegara. Sebenarnya bisa dua sih, naik yang jurusanku ini (Purwokerto - Banyumas - Klampok - Banjarnegara) atau bisa juga yang lebih gedhe bisnya dan lebih cepet kayaknya, yang jurusan Purwokerto - Wonosobo. Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa. Nanti turun di proyek, insyaAllah.


Minggu, 15 April 2018

Biar google keyboard ndak otomatis ngoreksi

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.
Kadang pas kita ngetik, terus pas dispasi, kok otomatis ngganti. Iya sih, kadang jadi betul. Tapi kadang ndak sesuai dengan yang kita inginkan. Apalagi kayak saya yang bahasanya ndak bener² formal banget.
Langsung saja, begini Sahabat.







Pas terakhir, pastikan koreksi otomatisnya posisi mati.
Gitu saja, Sahabat.
Semoga bermanfaat.. :)
Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh

Jumat, 24 November 2017

Membuat amplop sendiri

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh, Sahabat.

Cerita kali ini aku bagi dari salah satu sahabatku, Bu Mella namanya. Ide kreatifnya aku kira sangat bagus untuk ditulis di blog ini. Mungkin juga sudah ada Sahabat di sini yang tau. Tips membuat amplop dengan origami sederhana.. yeay!

Begini. Ini sangat pas saat kita mau kondangan, membungkus hadiah, atau apapun yang kalau istilahnya pakipin itu "murmer". Alat yang dibutuhkan cuma selembar kertas (ukuran bisa menyesuaikan) dan beberapa upo, nasi yang masih hangat, atau lem lah..

Langsung saja. Proses pertama, siapkan kertasnya. Putih bersih, atau kalau mau agak nyentrik, pakai kertas bercorak atau kertas koran sekalian.. (eh..) kalau di contoh gambarku ini ukuran A4. Harusnya kalau untuk kondangan kertas ini ini bisa jadi 2 amplop, ya bagi saja ya..

Selanjutnya lipat menjadi seperti gambar di bawah ini. Ada dua lipatan, tepi atas dilipat ke bawah, dan tepi bawah dilipat ke atas. Kira-kira mereka bertemu di tengah (sebenarnya terserah selera saja, bisa nanti ketemunya di tengah, agak naik, atau agak turun, mangga..). Tapi jangan pas ditemukan, berikan sedikit tambahan untuk tempat ngelem ke dua sisi ini.

Kayak gini jadinya.

Selanjutnya, masih di posisi pertemuan dua sisi atas tadi, lipat sedikit saja sisi kanan dan kiri dari hasil itu.

Buka lagi lipatannya, lalu bentuk segitiga di keempat pojoknya.

Buka lagi semuanya, lalu bagian sisi kanan dan kiri yang atas, dilipat ke dalam, bagian yang bawah juga dilipat ke dalam seperti gambar ini. Oh iya, kalau gambarnya kekecilan, klik aja ya, nanti mbesar sendiri kok Sahabat.

Caranya seperti ini. Takzum biar lebih jelas. Tadinya lipatannya keluar, lalu tak buat ke dalam. Kita buat garis dengan tangan kita di sisi yang itu..

Begini hasil garisan kita.

Kalau ditutupkan hasilnya kayak gini.

Lebih rapi lagi ya kayak gini. Jadi deehh.. Alhamdulillah.. Tinggal dilem aja pakai upo atau lem beneran.

Kalau udah jadi, bisa kita isi dengan beberapa rupiah kayak gini.. (ini kebesaran amplopnya euy! Tambahin lagi dong.. Dikit banget sih..)

Atau kalau mau juga kayak gini.. Waah.. apa tuh?

Selesai dimasukkan, lem bagian atasnya. Kalau semua sudah dipastikan ketutup, balik amplop baru kita, lalu tulisi:

"Dari Sahabatmu tercanggih,
 Muktyas
 di
   Tigaraksa
"
Contoh saja sih..
Okay. Begitu saja, Sahabat. Semoga bermanfaat. :D

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.